Sekolah Dasar

Selasa, 15 April 2014

Hakikat Manajemen Sekolah



HAKIKAT MANAJEMEN SEKOLAH
A.    Pengertian
Menurut Stoner Manajemen secara umum yang dikutip oleh T. Hani Handoko (1995) manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Sudjana (2000 : 77) : Manajemen merupakan rangkaian berbagai kegiatan wajar yang dilakukan seseorang berdasarkan norma-norma yang telah ditetapkan dan dalam pelaksanaannya memiliki hubungan dan saling keterkaitan dengan lainnya. Hal tersebut dilaksanakan oleh orang atau beberapa orang yang ada dalam organisasi dan diberi tugas untuk melaksanakan kegiatan tersebut.
Sedangkan dalam konteks sekolah yaitu Manajemen sekolah menurut buku manajamen sekolah sebenarnya merupakan aplikasi ilmu manajemen dalam bidang persekolahan. Ketika istilah manajemen diterapkan dalam bidang pemerintahan akan menjadi manajemen pemerintahan, dalam bidang pendidikan menjadi manajemen pendidikan, begitu seterusnya.
Berdasarkan fungsi pokoknya, istilah manajemen mempunyai fungsi penting, yaitu:
1.      Merencanakan (planning)
2.      Mengorganisasikan (organizing)
3.      Mengarahkan (directing)
4.      Mengawasi (controlling)

B.     Ruang Lingkup  
Manajemen (berbasis) sekolah, memberikan kewenangan penuh kepada pihak sekolah untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengkoordinasikan, mengawasi, dan mengevaluasi komponen-komponen pendidikan sekolah yang bersangkutan. Komponen-komponen tersebut meliputi:
1.      Input siswa (kesiswaan)
2.      Kurikulum
3.      Tenaga kependidikan
4.      Sarana-prasarana
5.      Dana
6.      Lingkungan (hubungan sekolah dengan masyarakat)
7.      Kegiatan belajar-mengajar, yang secara diagramatis seperti di bawah ini.
 









Gambar 1
Berbagai Komponen Pendidikan Yang Perlu Dikelola
Dalam Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi

Komponen-komponen tersebut merupakan sub-sistem dalam sistem pendidikan (sistem  pembelajaran). Bila terdapat perubahan pada salah satu sub-sistem (komponen), maka menuntut perubahan/ penyesuaian komponen lainnya. Dalam hal ini, bila dalam suatu kelas terdapat perubahan pada input siswa, yakni tidak hanya menampung anak normal tetapi juga anak luar biasa, maka menuntut penyesuaian (modifikasi) pengelolaan kesiswaan, kurikulum (program pengajaran), tenaga kependidikan, sarana-prasarana, dana, lingkungan, serta kegiatan belajar-mengajar.
C.    Prinsip Umum
1.      Manajemen Sekolah bersifat praktis dan fleksibel, dapat dilaksanakan sesuai dengan kondisi dan situasi nyata di sekolah.
2.      Manajemen Sekolah berfungsi sebagai sumber informasi bagi peningkatan pengelolaan pendidikan dan kegiatan belajar-mengajar.
3.      Manajemen Sekolah dilaksanakan dengan suatu system mekanisme kerja yang menunjang realisasi pelaksanaan kurikulum.
D.    Kriteria Manager Pendidikan
Dalam pelaksanaan manajemen, termasuk manajemen pendidikan/ sekolah, perlu seorang manajer/pemimpin/administrator yang berpandangan luas dan berkemampuan, baik dari segi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Seorang manajer/pemimpin/administrator pendidikan/sekolah diharapkan:
1.      Memiliki pengetahuan tentang administrasi pendidikan/sekolah yang meliputi kegiatan mengatur: (a) kesiswaan, (b) kurikulum, (c) ketenagaan, (d) sarana-prasarana, (e) keuangan, (f) hubungan dengan masyarakat, (h) kegiatan belajar-mengajar.
2.      Memiliki keterampilan dalam bidang: (a) perencanaan, (b) pengorganisasian, (c) pengarahan, (d) pengkoordinasian, (e) pengawasan, dan (f) penilaian pelaksanaan kegiatan yang ada di bawah tanggungjawabnya.
3.      Memiliki sikap:
a.       Memahami dan melaksanakan kebijakan yang telah digariskan oleh pimpinan;
b.      Menghargai peraturan-peraturan serta melaksanakannya;
c.       Menghargai cara berpikir yang rasional, demokratis, dinamis, kreatif, dan terbuka terhadap pembaharuan pendidikan serta bersedia menerima kritik yang membangun; dan
d.      Saling mempercayai sebagai dasar dalam pembagian tugas.
E.     Permasalahan Manajemen Sekolah
Tak ubahnya seperti manusia yang memiliki masalah dalam perjalanan hidupnya, manajemen sekolah juga memiliki masalah dalam pelaksanaannya, antara lain:
1.      Resistensi terhadap perubahan
Setidaknya ada dua jenis resistensi terhadap penerapan MBS yaitu resistensi pada sumberdaya manusia dan resistensi pada organisasi. Resistensi pada sumberdaya manusia disebabkan oleh ketidakmampuan, ketakutan terhadap perubahan, kurang bisa melihat keuntungan, kekurangpercayaan, dan merasa terganggu terhadap kemapanan yang telah lama melekat padanya.
Sedang resistensi pada organisasi setidaknya meliputi struktur organisasi sekolah termasuk pembagian kerja yang belum pas dalam sekolah dan antara sekolah dengan dinas pendidikan dan komite sekolah.
Pemecahan:
Perlu dilakukan restrukturisasi organisasi sekolah agar roles, relationships, rules and regularities and accountabity sesuai dengan keyakinan, nilai, dan norma-norma baru yang terkandung dalam MBS. Selain itu, sekolah perlu menumbuhkan dan mengembangkan kultur baru yang dituntut oleh MBS melalui penyadaran (diskusi, pembiasaan, contoh, dsb.) bahwa kehidupan adalah perubahan sehingga kemapanan yang selama ini mereka miliki perlu dicairkan.
2.      Miskin wawasan tentang konsep sekolah sebagai sistem
Miskinnya wawasan warga sekolah dan unsur-unsur terkait tentang konsep sekolah sebagai sistem. Terlihat cara berpikir mereka sering parsial (tidak utuh/holistic), meloncat-loncat (tidak runtut), dan kurang memahami bahwa upaya-upaya yang ditempuh dalam mengembangkan sekolah haruslah dilakukan secara kolektif dan bukannya isolatif.
Pemecahan:
Perlu dilakukan sosialisasi tentang pentingnya berpikir sistem, cara-cara berpikir sistem, dan penerapannya untuk pengelolaan dan pengembangan sekolah sehingga tertanam cara-cara berpikir dan perbuatan yang bersifat holistik/sistemik. Sosialisasi dapat dilakukan melalui penataran dan pembimbingan.
3.      Kesulitan dalam menyusun rencana pengembangan sekolah (RPS)
RPS merupakan dynamic blue print sekolah yang memuat gambaran kegiatan sekolah di masa depan dalam rangka untuk mencapai perubahan/tujuan sekolah yang telah ditetapkan. Perlu digarisbahwahi bahwa dalam situasi yang turbulen seperti saat ini, RPS harus bersifat luwes/kenyal dan dinamis (planning dynamics), tidak kaku. Selain itu, RPS harus menerapkan prinsip-prinsip RPS yang baik yaitu: memperbaiki output sekolah, demand driven (prioritas kebutuhan sekolah), partisipasi, keterwakilan, data driven, realistis sesuai dengan hasil analisis SWOT, mendasarkan pada hasil review dan evaluasi, keterpaduan, holistic/tersistem, dan transparansi.
Pemecahan:
Perlu dilakukan peningkatan kemampuan sekolah dalam menyusun RPS melalui penerbitan pedoman/panduan penyusunan RPS dan penataran-panataran penyusunan RPS yang dilakukan secara intensif. Selama ini keduanya sudah dilakukan sehingga yang diperlukan adalah intensifikasi dan ekstensifikasinya.
4.      Miskin wawasan tentang konsep manajemen berbasis sekolah (MBS)
Secara agregatif, masih banyak sekolah yang belum memahami esensi konsep MBS. Masih banyak juga sekolah yang belum melaksanakan MBS secara konsisten menurut aspek dan fungsi manajemen secara utuh. Aspek-aspek manajemen sekolah yang dimaksud meliputi kurikulum, tenaga/sumberdaya manusia, siswa, sarana dan prasarana, dana, dan hubungan masyarakat.
Pemecahan:
Seperti butir 3, perlu dilakukan peningkatan kemampuan sekolah dalam memahami dan melaksanakan MBS melalui penerbitan pedoman/panduan penyusunan MBS dan penataran-panataran MBS yang dilakukan secara intensif. Selama ini keduanya juga sudah dilakukan sehingga yang diperlukan adalah intensifikasi dan ekstensifikasinya.
5.      Kesulitan menerapkan prinsip-prinsip MBS yang baik
Pengamatan selama ini menunjukkan bahwa masih banyak sekolah yang belum menerapkan prinsip-prinsip MBS yang baik secara konsisten, yaitu partisipasi, transparansi, akuntabilitas, keadilan, penegakan hukum, cepat tanggap, demokrasi, tanggungjawab, efisiensi dan efektivitas, profesionalisme, berwawasan ke depan (futuristic), dan pengawasan serta kontrol yang efektif.
Pemecahan:
Perlu diterbitkan panduan yang spesifik tentang prinsip-prinsip MBS yang baik dan dilakukan focus group discussion (FGD) lintas unsur-unsur dalam sekolah dan dengan lintas organisasi yaitu dengan Komite Sekolah, Dinas Pendidikan, dan Dewan Pendidikan. Penyusunan RPS yang dilakukan secara partisipatif, laporan program dan keuangan yang dilakukan secara transparan dan akuntabel adalah merupakan upaya untuk merealisasikan prinsip-prinsip MBS yang baik.
6.      Kesiapan Sekolah dalam melaksanakan KBK
Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) telah dikenalkan di sejumlah sekolah. Namun setelah dicermati, tingkat kesiapan mereka belum memadai seperti yang dituntut oleh KBK.
Pemecahan:
Perlu penyusunan panduan pelaksanaan KBK yang lebih akurat, perlu sosialisasi KBK lebih intensif melalui lokakarya bagi seluruh unsur yang terkait dengan implementasi KBK, dan perlu dukungan sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya (dana, sarana prasarana) karena KBK menuntut pembelajaran yang lebih konkret bukan sekadar abstrak, realitas dan bukan artificial, actual dan bukan sekadar tekstual, nyata dan tidak sekadar maya, dan ini semua hanya bisa dilakukan melalui pendekatan pembelajaran learning by doing, mastery learning, and contextual learning, yang jelas memerlukan sarana dan prasarana.
7.      Ketidak jelasan dalam manajemen tenaga kependidikan
Masalah manajemen tenaga kependidikan di sekolah sebenarnya sudah secara konseptual telah jelas karena P3D (personel, peralatan, pendanaan, dan dokumen) sudah diserahkan ke daerah. Yang belum jelas adalah implementasinya. Sampai saat ini, perencanaan, rekrutmen, penempatan, pemanfaatan, pengembangan, pemutasian, hubungan kerja, penilaian kinerja, pendataan, dan hal-hal lain yang terkait dengan manajemen tenaga kependidikan masih kurang jelas. Tidak hanya itu, rekrutmen kepala sekolah tidak lagi sepenuhnya menggunakan persyaratan-persyaratan sebagaimana dituntut oleh Kepmendikbud nomor 0296/U/1996 (diperbarui menjadi Kepmendiknas nomor 17/U/2003).
Pemecahan:
Perlu dibahas secara intensif tentang manajemen tenaga kependidikan melalui pertemuan-pertemuan lintas organisasi yaitu Sekolah, Dinas Pendidikan dan Pemda Kabupaten/Kota/Propinsi, dan Depdiknas untuk mencari solusi kejelasan implementasi manajemen tenaga kependidikan.
8.      Belum optimalnya partisipasi/dukungan stakeholders
Salah satu inti MBS adalah partisipasi, baik dari warga dalam sekolah maupun warga masyarakat yang berpengaruh maupun yang dipengaruhi oleh sekolah (stakeholders). Wadah partisipasi stakeholders sudah ada yaitu Komite Sekolah, namun dukungan riil dari mereka, baik intelektual, moral, financial, dan material, masih beragam.
Pemecahan:
Perlu dilakukan advokasi melalui pertemuan-pertemuan, perlu meningkatkan partisipasi stakeholders dalam berbagai kegiatan sekolah, perlu publikasi melalui media tertulis/elektronik, perlu komunikasi secara intensif melalui berbagai media, perlu digalakkan transparansi, dan perlu peningkatan relasisasi dengan stakeholders melalui berbagai events.
9.      Kekurangjelasan tata pemerintahan pendidikan
Telah terbukti bahwa masih banyak tumpang tindih pembagian kerja (division of labor) antara unsur-unsur yang terkait dengan sekolah. Pembagian kerja antara Sekolah dan Komite Sekolah, pembagian kerja antara Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan, dan antara Dewan Pendidikan dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), masih memerlukan kejelasan. Jika demikian, tata pemerintahan dalam pendidikan (governance in education) akan kurang mendukung terhadap implementasi MBS.
Pemecahan:
Perlu dibahas secara lintas organisasi mengenai fungsi, struktur organisasi, pembagian kerja (division of labor) dari masing-masing pihak yang terkait dengan tata pemerintahan pendidikan di sekolah melalui lokakarya dan pengkajian tentang praktek-praktek terbaik tata pemerintahan pendidikan di sekolah-sekolah lain.

Sumber:
Konsep Manajemen Sekolah.       http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/Konsep%20Manajemen%20Sekolah.pdf.diakses pada 8 Maret 2014

Sudiatmoko. 2011. Manajemen Berbasis Sekolah: Permasalahan Dan Pemecahannya. http://surofarhan.blogspot.com/2011/06/manajemen-berbasis-sekolah-permasalahan.html. diakses pada 8 Maret 2014


Pembelajaran Van Hiele KD 3.11 dan 4.4 Kelas IV


Kompetensi Dasar yang berpasangan adalah 3.11 dann 4.4
Kompetensi Dasar 3.11
Menemukan bangun segibanyak beraturan maupun tak beraturan yang membentuk pola pengubinan melalui pengamatan
Indikator 3.11
3.11.1    Mengamati dan menentukan berbagai benda yang berbentuk bangun datar segibanyak beraturan maupun segibanyak tak beraturan yang ada disekitar lingkungan.
3.11.2    Mengidentifikasi bangun segibanyak beraturan maupun tak beraturan yang membentuk pola pengubinan.
3.11.3    Menentukan bangun segibanyak beraturan yang membentuk pola pengubinan.
3.11.4    Menentukan bangun segibanyak tak beraturan yang membentuk pola pengubinan.
3.11.5    Menentukan pola pengubinan yang ada disekitar lingkungan.
3.11.6    Menganalisis bentuk bangun datar yang membentuk pola pengubinan yang ada disekitar lingkungan.
Kompetensi Dasar 4.4
Melakukan pengubinan menggunakan segibanyak beraturan tertentu.
Indikator 4.4
4.4.1        Menyiapkan alat dan bahan untuk membuat bentuk bangun datar segibanyak beraturan tertentu.
4.4.2        Menggambar bentuk bangun datar segibanyak beraturan tertentu.
4.4.3        Mempraktekkan pengubinan menggunakan bangun datar segibanyak beraturan tertentu.
4.4.4        Membuat gambar pakaian bermotif pengubinan menggunakan segibanyak beraturan tertentu dengan kertas A4.
4.4.5        Memajang dan menunjukkan hasil gambar tersebut.
Fase-Fase Pembelajaran Menurut Van Hiele
1.      Fase Informasi
a.       Siswa mengamati benda-benda berbentuk bangun datar segibanyak beraturan maupun tak beraturan yang ada disekitar lingkungan.
b.      Guru dan siswa melakukan tanya jawab mengenai bentuk benda-benda yang telah diamati  tadi.
c.       Guru menggambar dan memberi nama berbagai bangun datar segibanyak beraturan dan tak beraturan dipapan tulis.
d.      Guru dan siswa melakukan tanya jawab mengenai cara menggambar bangun  datar segibanyak beraturan dan tak beraturan.
2.      Fase Orientasi
a.        Dari gambar yang ada dipapan tulis, siswa diminta untuk mengidentifikasi bangun datar segibanyak beraturan maupun tak beraturan yang membentuk pola pengubinan.
b.      Siswa diminta menentukan bangun segibanyak beraturan yang membentuk pola pengubinan, kemudian hasilnya ditulis dalam buku tulis masing-masing.
c.       Siswa diminta menentukan bangun segibanyak tak beraturan yang membentuk pola pengubinan, kemudian hasilnya ditulis dalam buku tulis masing-masing.
d.      Siswa mengamati disekitar lingkungannya mengenai benda-benda yang membentuk pola pegubinan.
e.       Dari hasil pengamatan tadi, siswa menganalisis bentuk bangun datar apa saja yang membentuk pola pengubinan.
f.       Siswa bersama teman sebangku mendiskusikan hasil analisis mengenai bangun datar yang membentuk pola pengubinan.
g.      Bersama teman sebangku, siswa mendiskusikan berbagai alat dan bahan yang akan digunakan untuk menggambar berbagai bentuk bangun datar segibanyak beraturan dan gambar pakaian bermotif dengan pola pengubinan.
h.      Siswa mulai menggambar bentuk berbagai bentuk bangun datar segibanyak beraturan (segi empat, segi lima dan segi enam) pada bukunya masing-masing.
i.        Bersama dengan teman sebangku, siswa mendiskusikan bangun datar segibanyak beraturan untuk membuat pola pengubinan dengan menggunakan bangun datar segibanyak beraturan dibuku masing-masing.
3.      Fase Penjelasan
a.       Siswa mempresentasikan hasil identifikasinya mengenai bangun datar segibanyak beraturan maupun tak beraturan yang membentuk pola pengubinan.
b.      Siswa membacakan bangun datar segibanyak beraturan dan segibanyak tak beraturan yang membentuk pola pengubinan.
c.       Siswa membacakan hasil analisis mengenai bangun datar yang membentuk pola pengubinan disekitar lingkungan.
d.      Siswa mempresentasikan hasil gambar pola pengubinan dengan menggunakan bangun datar segibanyak beraturan.
4.      Fase Orientasi Bebas
a.       Guru menyiapkan selembar kertas berpetak untuk masing-masing siswa, siswa diminta membuat pola pengubinana dengan menggunakan satu atau dua bangun datar  segibanyak beraturan (segi empat, segi lima dan segi enam).
b.      Guru meminta siswa membuat gambar pakaian bermotif pola pengubinan bangun datra segibanyak beraturan dengan menggunakan alat dan bahan yang telah dibawa dari rumah.
c.       Siswa diminta bertanya pada guru mengenai tugas yang akan dikerjakan.
5.      Fase Integrasi
a.       Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari
b.      Guru menyampaikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.

Kamis, 20 Februari 2014

Lirik Lagu Maliq & D'essentials - Inilah Kita

Inilah kita..
Mencoba melangkah dalam satu arah seiya sekata
Inilah masa kita harus bisa membuka mata melihat yang nyata

Selama ini kita trus bertanya
Apa yang kita jalani ini benar adanya
mungkin kita harus meyakinkan hati untuk tau jawabnya

Inilah kita..
Mencoba merangkai semua hayalan yang kan kita nyatakan
Ke sebuah masa dengan suka duka
Jadi realita yang kan kita jalankan

Selama ini kita trus bertanya
Apa yang kita jalani ini benar adanya
mungkin kita harus meyakinkan hati untuk tau jawabnya

Apalagi yang kita tunggu bila sudah merasa
Semua yang aku dan kau cari kita bisa terima
Tak perlulah menunda nunda
Bila saat ini ku minta kita tuk jadi satu selamanya

Ke realita kita menuju,
Di realita kita bertemu..

Selamanya..
Inilah kita di satu masa di realita,
Inilah kita.. inilah kita..

Selasa, 11 Februari 2014

Lirik Dunia Sekitar - Maliq & D'essentials

Pernahkah kau berfikir hidupmu tidak adil
Karena engkau merasa kecewa
karna hal yang kecil kau anggap besar
seakan hidup ini berakhir


tidak kah kau merasa hayo siapa berfikir
masalahmu yang kecil tidak sebanding
dengan apa yang dirasakan banyak manusia diluar sana
Hai cobalah kau melihat dunia disekitar dengan mata hatimu


Give your love your loveyour love come on people

Hingga engkau mengerti tidak banyak manusia
Seberuntung dirimu yang berharap uluran tangan
Tak kunjung datang
Namun senyumnya tak pernah hilang


Jadi mulai sekarang
Cobalah tetap senang saat cobaan datang
Karna itu akan selalu datang dan hilang
seperti hari siang dan malam
Hai cobalah kau melihat dunia disekitar dengan mata hatimu


Give your love your loveyour love come on people

Langkah manusia menjadi nyata
Saat bertindak bukan berkata
Belajarlah makna dari senyuman mereka


So come on people
Lets di it now lets do it now
Langkah manusia menjadi nyata
Saat bertindak bukan berkata
Belajarlah makna dari senyuman mereka
Give your love love your love come on people

Minggu, 09 Februari 2014

Quote Bulan Kasih Sayang

"Bersabarlah, ada masanya dimana hati datang berlabuh"

ProgJa D.Pusdatin Gerhana Unnes






Semarang, 1 Februari UKM Gerhana Unnes melaksanakan Rapat Kerja. Ini dia Program Kerja Divisi Pusdatin Gerhana Unnes selama setahun kedepan

1. Pembuatan seragam gerhana (WAJIB)
2. Pembuatan STO dan KTA
3. Bersih markasku dan Artaris
4. Penelitian
5. Gerhana's Library
6. Katalog
7. Pembuatan jaket gerhana (direkomendasikan)
Nah, itu dia 7 ProgJa dari Divisi Pusdatin untuk setahun kedepan..semoga dapat terlaksana dengan baik.. #KeluargaBaru

Narkoba...NO !!! Prestasi...YES !!! GERHANA....EXCELLENT !!!!!

Tempat Pensil Stik Es Krim

Seminggu kemarin, adikku dapat tugas dari sekolah untuk membuat sebuah prakarya dari stik es krim. Lalu, aku search langsung digoogle, akhirnya aku pilih untuk merekomendasikannya membuat tempat pensil yang ada burung meraknya kayak gini ^_^

Mungkin itu bisa diselesaiin dalam waktu 1 sampai 3 hari, itu kalau pakai niat loh hehe...susahnya pas bikin tuh burung meraknya. Itu bikinnya udah salah strategi duluan, harusnya diwarnain dulu, eh adekku malah dibikin dulu baru diwarnain..ya begitulah jadinya. Tempat pensilnya nggak keliatan yak..soalnya tempat pensilnya ada di buntut burung meraknya paling belakang hehe...Tapi seru kok bikinnya, yakin deh :D

Selamat berkreasi XD