Sekolah Dasar

Jumat, 18 April 2014

Makalah Kriteria Pemilihan dan Penggunaan Metode Pembelajaran

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Proses belajar mengajar merupakan interaksi yang dilakukan antara guru dengan peserta didik dalam suatu kondisi pendidikan atau pengajaran untuk menentukan tujuan yang ditetapkan. Sehingga perlu adanya kriteria dalam pemilihan metode pembelajaran yang sesuai. Dengan mengetahui kriteria pemilihan metode pembelajaran yang tepat maka kita dapat memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan keadaan. Misal metode yang digunakan dalam strategi pembelajaran yang lebih berpusat pada guru, yaitu metode ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi. Setiap metode akan dibahas menurut pengertian dan tujuannya, alasan penggunaannya, kekuatan dan kelemahannya, cara mengatasi kelemahannya, dan langkah-langkah pelaksanaannya.
Metode ini merupakan cara-cara yang ditempuh guru untuk menciptakan suatu kondisi pembelajaran yang benar-benar menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proes belajar dan tercapainya belajar anak yang memuaskan. Sunaryo(1995) menunjukan adanya pola dasar yang menjadi rujukan dalam rangka implementasi, yaitu:
1.      Guru secara cepat langsung meresponkebutuhan dan keinginan si anak dan menyesuaikan respon tersebut
2.      Berbagai kesempatan disediakan untuk guru dan peserta didik mengembangkan kemampuan berkomunikasi
3.      Guru memfasilitasi tercapainya tugas perkembangan bagi peserta didikdengan memberikan perhatian, dukungan, sentuhan fisik dan dorongan yang diperlukan
4.      Sumber-sumber stres pada anak benar-benar dipahami oleh guru sehingga berbagai aktivitas dan teknik dapat dikembangkan
5.      Guru memfasilitasi perkembangan harga diri pada anak dengan cara memberikan perhatian yang cukup, menghargai dan mau menerima peserta didik
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa kriteria yang diperhatikan dalam metode pembelajaran?
2.      Apa saja yang perlu diperhatikan seorang pengajar dalam memilih metode pembelajaran?
3.      Apa macam-macam metode pembelajaran?


















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kriteria pemilihan metode pembelajaran 
Kriteria pemilihan metode pembelajaran yaitu :
1.      Sifat (karakter) guru.
Misalkan : Guru yang sifatnya pendiam lebih cocok menggunakan metode problem solving (pemecahan masalah).
2. Tingkat perkembangan intelektual dan sosial anak.
Misalkan : Untuk anak kelas 2 SD, lebih cocok menggunakan metode permainan (gaming method).
3. Fasilitas sekolah yang tersedia.
Misalkan : di sekolah perkotaan cocok menggunakan metode CAI (Computer Assisted Intruction = Pembelajaran dengan Komputer)
4. Tingkat Kemampuan Guru.
Misalkan : Guru yang ahli praktikum membuat produk ”sabun deterjen” akan lebih cocok mengunakan metode Experiment (percobaan) di laboratorium.
5. Sifat dan tujuan materi pelajaran.
Misalkan : Untuk mengajarkan materi ”Teknik Menjual” akan cocok digunakan metode ”Field Experience” atau Pengalaman Lapangan menjual produk kepada konsumen.
6. Waktu pembelajaran.
Misalkan : Untuk pembelajaran dengan waktu pendek paling tepat digunakan metode ceramah.
7. Suasana kelas.
Misalkan : Suasana kelas yang lelah dan mengantuk, untuk mengajarkan teknik menjual mobil misalnya, lebih tepat menggunakan metode Drama (bermain peran). Ada yang berperan sebagai supervisor, penjual, pembeli, lembaga pendanaan (leasing), dan asuransi (penanggung risiko).
8. Konteks domain tujuan pembelajaran.
Misalkan : Untuk tujuan yang stressing point atau penekanannya pada domain kognitif tentunya cocok menggunakan metode diskusi, pemecahan masalah atau inquiry (menemukan sendiri). Tetapi tujuan pembelajaran yang menekankan pada domain affektif lebih cocok menggunakan metode eksamploratorik (memberikan contoh perilaku) atau VCT (Value Clarification Technique = teknik klarifikasi nilai) dengan menunjukkan mana perilaku yang benar / baik dan mana yang salah / buruk). Tetapi untuk domain tujuan yang psikomotorik tepat menggunakan Simulasi, demonstrasi, studi proyek, drill / latihan.
Metode Pembelajaran merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Dapat dikatakan metode pembelajaran merupakan bagian dari strategi instruksional. Tetapi tidak semua metode pembelajaran sesuai digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Penulisan mengenai metode di bawah ini tidak mengikuti suatu urutan tertentu, tetapi dilakukan secara acak. Diungkapkan pula kapan baiknya metode tersebut dilaksanakan serta keunggulan dan kekurangan metode tersebut.
Sebelum memutuskan metode mana yang akan dipakai dalam proses belajar mengajar, maka seorang pengajar perlu memperhatikan beberapa pertimbangan berikut :
a.       Tujuan pembelajaran.
Pertimbangan ini merupakan syarat mutlak dalam pemilihan metode yang akan digunakan. Sebagai contoh, seorang guru kesenian menetapkan cara memainkan alat musik dengan benar. Dalam hal ini metode yang dapat membantu adalah metode ceramah, dimana diterangkan bagian-bagian dari masing-masing alat musik dan cara penggunaannya. Kemudian metode demonstrasi, siswa dapat mendemonstrasikan cara memainkan suatu alat musik dengan benar, selanjutnya metode pembagian tugas, siswa kita tugasi, bagaimana memegang gitar, bass, drum, dan apa tugas mereka, dan bagaimana mereka dapat bekerjasama dan memainkan suatu lagu dengan baik dan benar.
b.      Pengetahuan awal siswa
Metode yang akan kita gunakan tergantung pada pengetahuan awal yang dimiliki para siswa. Jika siswa tidak memiliki prinsip, konsep, dan fakta atau memiliki pengalaman, maka kemungkinan besar mereka belum dapat dipergunakan metode yang bersifat belajar mandiri. Metode yang dapat digunakan hanyalah ceramah, demonstrasi, penampilan, latihan dengan teman, sumbang saran, praktikum, bermain peran, dan lainlain.
c.       Bidang studi/pokok bahasan/aspek
Pada SLTP dan Sekolah Menengah, program studi diatur dalam tiga kelompok.
(1) program pendidikan umum (kognitif),
(2) program pendidikan akademik, dan
(3) pendidikan keterampilan (psikomotorik). Maka metode yang akan kita gunakan lebih berorientasi pada masing-masang ranah diatas yang terdapat dalam pokok bahasan/aspek.
d.    Alokasi waktu dan sarana penunjang
Dalam satu jam pelajaran, kita perlu membagi waktu yang akan dipergunakan oleh masing-masing metode. Misalnya, pelajaran Kimia, metode yang akan dipakai adalah praktikum, bukan berarti metode lain tidak kita gunakan. Metode ceramah sangat perlu untuk memberi petunjuk, aba-aba, dan arahan, dengan alokasi waktu sekian menit. Kemudian memungkinkan metode diskusi, karena dari hasil praktikum, siswa memerlukan diskusi kelompok untuk memecahkan problem yang dihadapi.
e.       Jumlah siswa
Idealnya metode yang diterapkan melalui pertimbangan rasio guru dan siswa agar proses belajar mengajar efektif. Dalam kelas yang besar dan siswa yang banyak, metode ceramah yang lebih efektif, akan tetapi yang perlu diingat bahwa metode ceramah memiliki banyak kelemahan.
f.       Pengalaman dan kewibawaan pengajar.
Pengalaman akan membuat seorang pengajar dapat menentukan dengan tepat metode mana yang akan dipergunakan. Kewibawaan merupakan kelengkapan mutlak yang bersifat abstrak karena guru akan berhadapan dan mengelola siswa dengan latar belakang yang berbeda beda.

Sanjaya (2006), Sagala (2006), dan Sumantri dan Permana (1998/1999) mengemukakan berbagai metode pembelajaran, baik metode pembelajaran yang lebih berpusat pada guru maupun yang lebih berpusat pada siswa. Metode pembelajaran yang lebih berpusat pada guru meliputi : ceramah, tanya-jawab, dan demonstrasi. Masing-masing akan dibahas menurut pengertian dan tujuannya, alasan penggunaannya, kekuatan dan kelemahannya, cara mengatasinya, dan langkah-langkah pelaksanaannya. Metode pembelajaran yaitu:
1. Metode Ceramah
a. Pengertian
Sumantri dan Permana (l998/l999) menyatakan bahwa metode ceramah adalah cara mengajar yang paling popular dan banyak dilakukan oleh guru. Hal ini karena metode ceramah mudah disajikan dan tidak banyak memerlukan media. Metode ceramah adalah penyajian pelajaran oleh guru dengan cara memberikan penjelasan secara lisan kepada siswa. Penggunaan metode ceramah sangat tergantung pada kemampuan guru. Penguasaan guru terhadap materi pelajaran, kemampuan berbahasa, intonasi suara, penggunaan media, dan variasi gaya mengajar lainnya sangat menentukan keberhasilan metode ini.

b. Tujuan
Tujuan metode ceramah adalah menyampaikan materi pelajaran yang bersifat informasi, yaitu konsep, pengertian, prinsip-prinsip yang banyak dan luas serta hasil penemuan-penemuan baru yang belum terpublikasikan secara meluas. Secara lebih khusus tujuan metode ceramah adalah :
1) Menciptakan lAndasan pemikiran siswa agar dapat belajar melalui bahan tertulis hasil ceramah guru.
2) Menyajikan garis-garis besar isi pelajaran dan permasalahan perting yang terdapat dalam isi pelajaran.
3) Merangsang siswa untuk belajar mandiri dan menumbuhkan rasa ingin tahu melalui pengayaan belajar.
4) Memperkenalkan hal-hal baru dan memberikan penjelasan secara gamblang teori dan prakteknya.
5) Sebagai langkah awal untuk metode yang lain dalam upaya menjelaskan prosedur yang harus ditempuh siswa. Misalnya sebelum eksperimen siswa diberi penjelasan tentang apa-apa yang harus dilakukan oleh siswa.
c. Alasan Penggunaan Metode Ceramah
Mengapa kita harus menggunakan metode ceramah? Metode ceramah digunakan guru dalam pembelajaran dengan alasan-alasan sebagai berikut :
1)  Siswa benar-benar memerlukan penjelasan guru karena bahan baru atau langkanya sumber pustaka, dan untuk menghindari kesalahpahaman.
2)    Karena tidak ada buku sumber pelajaran yang tersedia.
3)  Menghadapi siswa yang banyak jumlahnya, dan bila menggunakan metode lain  sukar diterapkan.
4)   Menghemat waktu, biaya, dan peralatan.


2. Metode Tanya Jawab
a. Pengertian
Metode tanya jawab adalah cara penyampaian suatu pelajaran melalui interaksi dua arah dari guru kepada siswa atau dari siswa kepada guru agar diperoleh jawaban kepastian materi melalui jawaban lisan guru atau siswa. Dalam metode tanya jawab, guru dan siswa sama-sama aktif. Siswa dituntut untuk aktif agar mereka tidak tergantung pada keaktifan guru. Rasa ingin tahu anak usia SD harus ditumbuh-suburkan agar ia menjadi manusia yang kreatif. Untuk itu guru harus menguasai keterampilan bertanya dan juga harus mempunyai semangat yang tinggi didalam menciptakan situasi yang kondusif bagi terlaksananya tanya jawab yang mendidik.
b. Tujuan
Adapun tujuan metode tanya jawab adalah :
1) Untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
2) Mendorong siswa berani mengajukan pertanyaan kepada guru tentang masalah yang belum dipahami
3) Menimbulkan kompetisi belajar yang sehat, dimana siswa yang aktif dan dapat menjawab pertanyaan guru atau siswa lain dengan baik akan lebih percaya diri dan akan terus berusaha untuk lebih baik lagi, dan siswa yang belum aktif atau tidak dapat menjawab pertanyaan guru atau siswa lainnya dapat mempersiapkan diri lebih baik lagi dalam kesempatan lain.
4) Melatih siswa untuk berpikir dan berbicara secara sistematis dan sistemik berdasarkan pemikiran yang orisinal.
5) Dengan metode tanya jawab siswa diarahkan agar mengerti, memahami dan berinteraksi secara aktif dalam pembelajaran sehingga tujuan dapat dicapai dengan baik.

c. Alasan Menggunakan Metode Tanya Jawab
Alasan guru menggunakan metode tanya jawab adalah untuk :
1)   Menimbulkan rasa ingin tahu siswa terhadap permasalahan yang sedang dibicarakan sehingga timbul partisipasi aktif dan aktifitas mental yang tinggi pada siswa.
2) Menimbulkan pola fikir reflektif, sistematis, kreatif`dan kritis.
3) Mewujudkan cara belajar siswa aktif.
4) Melatih dan memberanikan siswa untuk belajar mengekspresikan kemampuan lisan.
5) Memberi kesempatan siswa menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya.
3. Metode Demonstrasi
a. Pengertian
Sanjaya (2006), dan Sumantri dan Permana (1998/1999) mengemukakan bahwa demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan pada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk sebenarnya maupun dalam bentuk tiruan yang dipertunjukkan oleh guru atau sumber belajar lain yang ahli dalam topik bahasan yang harus didemonstrasikan. Metode Demonstrasi biasanya berkenaan dengan tindakan-tindakan atau prosedur yang dilakukan misalnya : proses mengerjakan sesuatu, proses menggunakan sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain, atau untuk mengetahui/melihat kebenaran sesuatu. Strategi Pembelajaran 6-11
b. Tujuan

Apa tujuan digunakannya metode demonstrasi ? Metode demonstrasi digunakan dengan tujuan :
1) Mengajarkan suatu proses atau prosedur yang harus dikuasai oleh siswa.
2) Mengkongkritkan informasi atau penjelasan kepada siswa.
3) Mengembangkan kemampuan pengamatan kepada para siswa secara bersama-sama.
c. Alasan Penggunaan Metode Demonstrasi

Kapan guru menggunakan metode demonstrasi ? Guru menggunakan metode demonstrasi apabila :
1) Tidak semua topik dapat dijelaskan secara gamblang dan konkrit melalui penjelasan atau diskusi.
2) Karena tujuan dan sifat materi pelajaran yang menuntut dilakukan peragaan berupa demonstrasi.
3) Tipe belajar siswa yang berbeda-beda, ada yang kuat visual, tetapi lemah dalam auditif dan motorik, ataupun sebaliknya.
4) Memudahkan mengajarkan suatu proses atau cara kerja.
5) Sesuai dengan langkah perkembangan kognitif siswa yang masih dalam fase operasional konkrit.
4. Metode Diskusi
a. Pengertian
Sanjaya (2006), dan Sumantri dan Permana (1998/1999) menyatakan bahwa metode diskusi diartikan sebagai siasat untuk menyampaikan bahan pelajaran yang melibatkan siswa secara aktif untuk membicarakan dan menemukan alternatif pemecahan suatu topik bahasan yang bersifat problematis. Dalam percakapan itu para pembicara tidak boleh menyimpang dari pokok pembicaraan yaitu masalah yang ingin dicarikan alternatif pemecahannya. Dalam diskusi ini guru berperan sebagai pemimpin diskusi, atau guru dapat mendelegasikan tugas sebagai pemimpin itu kepada siswa, walaupun demikian guru masih harus mengawasi pelaksanaan diskusi yang dipimpin oleh siswa itu. Pendelegasian itu terjadi kalau siswa dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok diskusi. Pemimpin Diskusi harus mengorganisir kelompok yang dipimpinnya agar setiap anggota diskusi dapat berpartisipasi secara aktif.
b. Tujuan
1) Memecahkan materi pembelajaran yang berupa masalah atau problematik yang sukar dilakukan oleh siswa secara perorangan.
2) Mengembangkan keberanian siswa mengemukakan pendapat.
3) Mengembangkan sikap toleran terhadap pendapat yang berbeda.
4) Melatih siswa mengembangkan sikap demokratis, keterampilan berkomunikasi, mengeluarkan pendapat, menafsirkan dan menyimpulkan pendapat.
5) Melatih dan membentuk kestabilan sosial-emosional.
c. Alasan Penggunaan Metode Diskusi
Sumantri dan Permana (1998/1999) mengemukakan alasan dipilihnya metode diskusi :
1) Topik bahasan bersifat problematis.
2) Merangsang peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam perdebatan ilmiah.
3) Melatih peserta didik untuk berpikir kritis dan terbuka.
4) Mengembangkan suasana demokratis dan melatih peserta didik berjiwa besar.
5) Peserta didik memiliki pAndangan yang berbeda-beda tentang masalah yang dijadikan topik diskusi.
6) Peserta didik memiliki pengetahuan dan pendapat-pendapat tentang masalah yang akan didiskusikan.
7) Masalah yang didiskusikan akan berhubungan dengan persoalan-persoalan yang lain pula.
3. Metode Simulasi
a. Pengertian
Abimanyu dan Purwant (1980), Sumantri dan Permana (l998/l999) menyatakan bahwa metode pembelajaran digunakan untuk menirukan keadaan sebenarnya kedalam situasi buatan, misalnya seorang guru mensimulasikan bagaimana cara melompat tinggi dengan gaya panggung atau bagaimana seorang penatar P4 mensimulasikan kehidupan masyarakat Pancasila, dimana setiap peserta penataran ada yang berperan sebagai lurah/RW/RT dan anggota masyarakat yang kesemuanya berperan secara sungguh-sungguh seperti yang dialami dalam kehidupan sosial di kelurahan itu. Dengan demikian simulasi adalah suatu usaha pembelajaran untuk memperoleh pemahaman akan hakekat suatu konsep atau prinsip, atau sesuatu keterampilan tertentu melalui proses kegiatan atau latihan dalam situasi tiruan. Melalui simulasi itu siswa akan mampu menghadapi kenyataan yang mungkin terjadi secara lebih efektif dan efisien.
b. Tujuan
Tujuan digunakan metode simulasi baik langsung, maupun tidak langsung adalah sebagai berikut :
1) Tujuan langsung
a) Untuk melatih keterampilan tertentu baik yang bersifat profesional maupun kehidupan sehari-hari.
b) Untuk memperoleh pemahaman tentang konsep atau prinsip.
c) Untuk latihan memecahkan masalah.
2) Tujuan tidak langsung
a) Untuk meningkatkan aktifitas belajar dengan melibatkan siswa dalam mempelajari situasi yang hampir sama dengan kejadian sebenarnya.
b) Untuk meningkatkan motivasi belajar, karena simulasi sangat menarik dan menyenangkan siswa.
c) Melatih siswa bekerja sama dalam kelompok.
d) Mengembangkan daya kreatif siswa.
e) Melatih siswa untuk memahami dan menghargai pendapat orang lain.
c. Alasan Penggunaan Metode Simulasi
Ada beberapa alasan tentang digunakannya metode simulasi dalam pembelajaran:
1) Simulasi dapat menunjang pelaksanaan dalam melatih keterampilan dasar mengajar yang sangat diperlukan bagi terbentuknya guru-guru yang profesional.
2) Simulasi merupakan salah satu metode yang memungkinkan siswa aktif belajar menghayati, memahami dan memperoleh keterampilan tertentu tanpa memerlukan obyek atau situasi yang sebenarnya yang umumnya susah didapatkan.
3) Metode simulasi memungkinkan terpadunya teori dan praktek, konten dan metode, sebab dengan simulasi teori atau konten yang baru diajarkan dapat segera dipraktekkan, sehingga konsep yang diperoleh dan keterampilan yang dimiliki menjadi sangat kuat tertanam dalam diri siswa.
4) Melalui metode simulasi memungkinkan siswa belajar dengan pemahaman bukan belajar secara mekanis.
5) Dengan metode simulasi dimungkinkan pelibatan alat-alat indra siswa secara optimal, sehingga pencapaian tujuan pelajaran akan lebih efektif dan bermakna.
5. Metode Pemberian Tugas
a. Pengertian
Sagala (2006) mengemukakan bahwa metode pemberian tugas adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan cara memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar, dan kemudian hasil pelaksanaan tugas itu dilaporkan kepada guru.
b. Tujuan
Tujuan penggunaan metode pemberian tugas adalah :
1) Untuk memperdalam bahan ajar yang ada
2) Untuk mengecek penguasaan siswa terhadap bahan yang telah dipelajari
3) Untuk membuat siswa aktif belajar, baik secara individu maupun kelompok
c. Alasan Penggunaan Metode Pemberian Tugas
Alasan penggunaan metode pemberian tugas adalah karena dengan metode tersebut:
1) Siswa diaktifkan baik secara mental maupun fisik dalam menguasai materi pelajaran
2) Siswa akan lebih mudah menguasai materi pelajarann dan siswa diperluas pengetahuannya tentang materi pelajaran tersebut
3) Siswa dibiasakan tidak cepat puas dengan apa yang dipelajari dari materi ajar yang telah ada sehingga dapat dikembangkan sikap ingin tahu dan haus ilmu pengetahuan
4) Siswa akan termotivasi belajar dan dilatih problem solving


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kriteria pemilihan metode pembelajaran yaitu :
1.     Sifat (karakter) guru.
2.  Tingkat perkembangan intelektual dan sosial anak.
3.  Fasilitas sekolah yang tersedia.
4.  Tingkat Kemampuan Guru.
5.  Sifat dan tujuan materi pelajaran.
6.  Waktu pembelajaran.
7.  Suasana kelas.
8.  Konteks domain tujuan pembelajaran.
Metode pembelajaran yaitu:
1. Metode Ceramah
2. Metode Tanya Jawab
3. Metode Demonstrasi
4. Metode Diskusi
5. Metode Pemberian Tugas

Selasa, 15 April 2014

Hakikat Manajemen Sekolah dan Permasalahannya



HAKIKAT MANAJEMEN SEKOLAH
A.    Pengertian
Menurut Stoner Manajemen secara umum yang dikutip oleh T. Hani Handoko (1995) manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Sudjana (2000 : 77) : Manajemen merupakan rangkaian berbagai kegiatan wajar yang dilakukan seseorang berdasarkan norma-norma yang telah ditetapkan dan dalam pelaksanaannya memiliki hubungan dan saling keterkaitan dengan lainnya. Hal tersebut dilaksanakan oleh orang atau beberapa orang yang ada dalam organisasi dan diberi tugas untuk melaksanakan kegiatan tersebut.
Sedangkan dalam konteks sekolah yaitu Manajemen sekolah menurut buku manajamen sekolah sebenarnya merupakan aplikasi ilmu manajemen dalam bidang persekolahan. Ketika istilah manajemen diterapkan dalam bidang pemerintahan akan menjadi manajemen pemerintahan, dalam bidang pendidikan menjadi manajemen pendidikan, begitu seterusnya.
Berdasarkan fungsi pokoknya, istilah manajemen mempunyai fungsi penting, yaitu:
1.      Merencanakan (planning)
2.      Mengorganisasikan (organizing)
3.      Mengarahkan (directing)
4.      Mengawasi (controlling)

B.     Ruang Lingkup  
Manajemen (berbasis) sekolah, memberikan kewenangan penuh kepada pihak sekolah untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengkoordinasikan, mengawasi, dan mengevaluasi komponen-komponen pendidikan sekolah yang bersangkutan. Komponen-komponen tersebut meliputi:
1.      Input siswa (kesiswaan)
2.      Kurikulum
3.      Tenaga kependidikan
4.      Sarana-prasarana
5.      Dana
6.      Lingkungan (hubungan sekolah dengan masyarakat)
7.      Kegiatan belajar-mengajar, yang secara diagramatis seperti di bawah ini.

Komponen-komponen tersebut merupakan sub-sistem dalam sistem pendidikan (sistem  pembelajaran). Bila terdapat perubahan pada salah satu sub-sistem (komponen), maka menuntut perubahan/ penyesuaian komponen lainnya. Dalam hal ini, bila dalam suatu kelas terdapat perubahan pada input siswa, yakni tidak hanya menampung anak normal tetapi juga anak luar biasa, maka menuntut penyesuaian (modifikasi) pengelolaan kesiswaan, kurikulum (program pengajaran), tenaga kependidikan, sarana-prasarana, dana, lingkungan, serta kegiatan belajar-mengajar.
C.    Prinsip Umum
1.      Manajemen Sekolah bersifat praktis dan fleksibel, dapat dilaksanakan sesuai dengan kondisi dan situasi nyata di sekolah.
2.      Manajemen Sekolah berfungsi sebagai sumber informasi bagi peningkatan pengelolaan pendidikan dan kegiatan belajar-mengajar.
3.      Manajemen Sekolah dilaksanakan dengan suatu system mekanisme kerja yang menunjang realisasi pelaksanaan kurikulum.
D.    Kriteria Manager Pendidikan
Dalam pelaksanaan manajemen, termasuk manajemen pendidikan/ sekolah, perlu seorang manajer/pemimpin/administrator yang berpandangan luas dan berkemampuan, baik dari segi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Seorang manajer/pemimpin/administrator pendidikan/sekolah diharapkan:
1.      Memiliki pengetahuan tentang administrasi pendidikan/sekolah yang meliputi kegiatan mengatur: (a) kesiswaan, (b) kurikulum, (c) ketenagaan, (d) sarana-prasarana, (e) keuangan, (f) hubungan dengan masyarakat, (h) kegiatan belajar-mengajar.
2.      Memiliki keterampilan dalam bidang: (a) perencanaan, (b) pengorganisasian, (c) pengarahan, (d) pengkoordinasian, (e) pengawasan, dan (f) penilaian pelaksanaan kegiatan yang ada di bawah tanggungjawabnya.
3.      Memiliki sikap:
a.       Memahami dan melaksanakan kebijakan yang telah digariskan oleh pimpinan;
b.      Menghargai peraturan-peraturan serta melaksanakannya;
c.       Menghargai cara berpikir yang rasional, demokratis, dinamis, kreatif, dan terbuka terhadap pembaharuan pendidikan serta bersedia menerima kritik yang membangun; dan
d.      Saling mempercayai sebagai dasar dalam pembagian tugas.
E.     Permasalahan Manajemen Sekolah
Tak ubahnya seperti manusia yang memiliki masalah dalam perjalanan hidupnya, manajemen sekolah juga memiliki masalah dalam pelaksanaannya, antara lain:
1.      Resistensi terhadap perubahan
Setidaknya ada dua jenis resistensi terhadap penerapan MBS yaitu resistensi pada sumberdaya manusia dan resistensi pada organisasi. Resistensi pada sumberdaya manusia disebabkan oleh ketidakmampuan, ketakutan terhadap perubahan, kurang bisa melihat keuntungan, kekurangpercayaan, dan merasa terganggu terhadap kemapanan yang telah lama melekat padanya.
Sedang resistensi pada organisasi setidaknya meliputi struktur organisasi sekolah termasuk pembagian kerja yang belum pas dalam sekolah dan antara sekolah dengan dinas pendidikan dan komite sekolah.
Pemecahan:
Perlu dilakukan restrukturisasi organisasi sekolah agar roles, relationships, rules and regularities and accountabity sesuai dengan keyakinan, nilai, dan norma-norma baru yang terkandung dalam MBS. Selain itu, sekolah perlu menumbuhkan dan mengembangkan kultur baru yang dituntut oleh MBS melalui penyadaran (diskusi, pembiasaan, contoh, dsb.) bahwa kehidupan adalah perubahan sehingga kemapanan yang selama ini mereka miliki perlu dicairkan.
2.      Miskin wawasan tentang konsep sekolah sebagai sistem
Miskinnya wawasan warga sekolah dan unsur-unsur terkait tentang konsep sekolah sebagai sistem. Terlihat cara berpikir mereka sering parsial (tidak utuh/holistic), meloncat-loncat (tidak runtut), dan kurang memahami bahwa upaya-upaya yang ditempuh dalam mengembangkan sekolah haruslah dilakukan secara kolektif dan bukannya isolatif.
Pemecahan:
Perlu dilakukan sosialisasi tentang pentingnya berpikir sistem, cara-cara berpikir sistem, dan penerapannya untuk pengelolaan dan pengembangan sekolah sehingga tertanam cara-cara berpikir dan perbuatan yang bersifat holistik/sistemik. Sosialisasi dapat dilakukan melalui penataran dan pembimbingan.
3.      Kesulitan dalam menyusun rencana pengembangan sekolah (RPS)
RPS merupakan dynamic blue print sekolah yang memuat gambaran kegiatan sekolah di masa depan dalam rangka untuk mencapai perubahan/tujuan sekolah yang telah ditetapkan. Perlu digarisbahwahi bahwa dalam situasi yang turbulen seperti saat ini, RPS harus bersifat luwes/kenyal dan dinamis (planning dynamics), tidak kaku. Selain itu, RPS harus menerapkan prinsip-prinsip RPS yang baik yaitu: memperbaiki output sekolah, demand driven (prioritas kebutuhan sekolah), partisipasi, keterwakilan, data driven, realistis sesuai dengan hasil analisis SWOT, mendasarkan pada hasil review dan evaluasi, keterpaduan, holistic/tersistem, dan transparansi.
Pemecahan:
Perlu dilakukan peningkatan kemampuan sekolah dalam menyusun RPS melalui penerbitan pedoman/panduan penyusunan RPS dan penataran-panataran penyusunan RPS yang dilakukan secara intensif. Selama ini keduanya sudah dilakukan sehingga yang diperlukan adalah intensifikasi dan ekstensifikasinya.
4.      Miskin wawasan tentang konsep manajemen berbasis sekolah (MBS)
Secara agregatif, masih banyak sekolah yang belum memahami esensi konsep MBS. Masih banyak juga sekolah yang belum melaksanakan MBS secara konsisten menurut aspek dan fungsi manajemen secara utuh. Aspek-aspek manajemen sekolah yang dimaksud meliputi kurikulum, tenaga/sumberdaya manusia, siswa, sarana dan prasarana, dana, dan hubungan masyarakat.
Pemecahan:
Seperti butir 3, perlu dilakukan peningkatan kemampuan sekolah dalam memahami dan melaksanakan MBS melalui penerbitan pedoman/panduan penyusunan MBS dan penataran-panataran MBS yang dilakukan secara intensif. Selama ini keduanya juga sudah dilakukan sehingga yang diperlukan adalah intensifikasi dan ekstensifikasinya.
5.      Kesulitan menerapkan prinsip-prinsip MBS yang baik
Pengamatan selama ini menunjukkan bahwa masih banyak sekolah yang belum menerapkan prinsip-prinsip MBS yang baik secara konsisten, yaitu partisipasi, transparansi, akuntabilitas, keadilan, penegakan hukum, cepat tanggap, demokrasi, tanggungjawab, efisiensi dan efektivitas, profesionalisme, berwawasan ke depan (futuristic), dan pengawasan serta kontrol yang efektif.
Pemecahan:
Perlu diterbitkan panduan yang spesifik tentang prinsip-prinsip MBS yang baik dan dilakukan focus group discussion (FGD) lintas unsur-unsur dalam sekolah dan dengan lintas organisasi yaitu dengan Komite Sekolah, Dinas Pendidikan, dan Dewan Pendidikan. Penyusunan RPS yang dilakukan secara partisipatif, laporan program dan keuangan yang dilakukan secara transparan dan akuntabel adalah merupakan upaya untuk merealisasikan prinsip-prinsip MBS yang baik.
6.      Kesiapan Sekolah dalam melaksanakan KBK
Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) telah dikenalkan di sejumlah sekolah. Namun setelah dicermati, tingkat kesiapan mereka belum memadai seperti yang dituntut oleh KBK.
Pemecahan:
Perlu penyusunan panduan pelaksanaan KBK yang lebih akurat, perlu sosialisasi KBK lebih intensif melalui lokakarya bagi seluruh unsur yang terkait dengan implementasi KBK, dan perlu dukungan sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya (dana, sarana prasarana) karena KBK menuntut pembelajaran yang lebih konkret bukan sekadar abstrak, realitas dan bukan artificial, actual dan bukan sekadar tekstual, nyata dan tidak sekadar maya, dan ini semua hanya bisa dilakukan melalui pendekatan pembelajaran learning by doing, mastery learning, and contextual learning, yang jelas memerlukan sarana dan prasarana.
7.      Ketidak jelasan dalam manajemen tenaga kependidikan
Masalah manajemen tenaga kependidikan di sekolah sebenarnya sudah secara konseptual telah jelas karena P3D (personel, peralatan, pendanaan, dan dokumen) sudah diserahkan ke daerah. Yang belum jelas adalah implementasinya. Sampai saat ini, perencanaan, rekrutmen, penempatan, pemanfaatan, pengembangan, pemutasian, hubungan kerja, penilaian kinerja, pendataan, dan hal-hal lain yang terkait dengan manajemen tenaga kependidikan masih kurang jelas. Tidak hanya itu, rekrutmen kepala sekolah tidak lagi sepenuhnya menggunakan persyaratan-persyaratan sebagaimana dituntut oleh Kepmendikbud nomor 0296/U/1996 (diperbarui menjadi Kepmendiknas nomor 17/U/2003).
Pemecahan:
Perlu dibahas secara intensif tentang manajemen tenaga kependidikan melalui pertemuan-pertemuan lintas organisasi yaitu Sekolah, Dinas Pendidikan dan Pemda Kabupaten/Kota/Propinsi, dan Depdiknas untuk mencari solusi kejelasan implementasi manajemen tenaga kependidikan.
8.      Belum optimalnya partisipasi/dukungan stakeholders
Salah satu inti MBS adalah partisipasi, baik dari warga dalam sekolah maupun warga masyarakat yang berpengaruh maupun yang dipengaruhi oleh sekolah (stakeholders). Wadah partisipasi stakeholders sudah ada yaitu Komite Sekolah, namun dukungan riil dari mereka, baik intelektual, moral, financial, dan material, masih beragam.
Pemecahan:
Perlu dilakukan advokasi melalui pertemuan-pertemuan, perlu meningkatkan partisipasi stakeholders dalam berbagai kegiatan sekolah, perlu publikasi melalui media tertulis/elektronik, perlu komunikasi secara intensif melalui berbagai media, perlu digalakkan transparansi, dan perlu peningkatan relasisasi dengan stakeholders melalui berbagai events.
9.      Kekurangjelasan tata pemerintahan pendidikan
Telah terbukti bahwa masih banyak tumpang tindih pembagian kerja (division of labor) antara unsur-unsur yang terkait dengan sekolah. Pembagian kerja antara Sekolah dan Komite Sekolah, pembagian kerja antara Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan, dan antara Dewan Pendidikan dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), masih memerlukan kejelasan. Jika demikian, tata pemerintahan dalam pendidikan (governance in education) akan kurang mendukung terhadap implementasi MBS.
Pemecahan:
Perlu dibahas secara lintas organisasi mengenai fungsi, struktur organisasi, pembagian kerja (division of labor) dari masing-masing pihak yang terkait dengan tata pemerintahan pendidikan di sekolah melalui lokakarya dan pengkajian tentang praktek-praktek terbaik tata pemerintahan pendidikan di sekolah-sekolah lain.

Sumber:
Konsep Manajemen Sekolah.       http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/Konsep%20Manajemen%20Sekolah.pdf.diakses pada 8 Maret 2014

Sudiatmoko. 2011. Manajemen Berbasis Sekolah: Permasalahan Dan Pemecahannya. http://surofarhan.blogspot.com/2011/06/manajemen-berbasis-sekolah-permasalahan.html. diakses pada 8 Maret 2014