Sekolah Dasar

Sabtu, 17 Mei 2014

Aliran-aliran Seni Rupa



ALIRAN-ALIRAN SENI RUPA
1.      Aliran Ekspresionisme
Ekspresionisme adalah aliran yang mengutamakan curahan batin secara bebas (kesedihan dll)atau melukis dengan goresan garis dan warna yang tampak spontan, tegas, cepat dan dinamis/penuh gerak. Tokoh: Vincent van gogh, Affandi, Rusli, Sri Hardi Sudarsono.
2.      Aliran Naturalisme
Naturalisme merupakan corak atau aliran dalam seni rupa yang berusaha melukiskan sesuatu obyek sesuai dengan alam (nature). Ciri-ciri: proporsi,keseimbangan, perspektf, pewarnaan menyerupai aslinya. Seniman pelopor: Rembrant, Williamn Hogart, Rudolf Bonnet, Lemayoun, Locatelling dan Frans Hall. Pelopor Indonesia: Raden Saleh, Abdullah Sudrio Subroto, Basuki Abdullah, Gambir Anom, R.M Pirmadi, Umar Basalamah, Rusdamaji dan Trubus.
3.      Aliran Realisme
Realisme adalah corak seni rupa yang menggambarkan kenyataan yang benar-benar ada, artinya yang ditekankan bukanlah obyek tetapi suasana dari kenyataan tersebut. fantasi dan imajinasi harus dihindari. Ciri-ciri: Aliran ini menunjukkan suatu keadaan sosial yang sesungguhnya dan biasanya memprihatinkan, seperti kemiskinan, gelandangan, pengemis dll. Seniman pelopor: Gustove Corbert, Fransisco de Goya dan Honore Daumier, Dullah, Trubus, Tarmizi, Sujoyono, Agus Jaya Suminta, Suromo.
4.      Aliran Impresionisme
Aliran ini mengutamakan kesan selintas dari suatu obyek yang dilukiskan. Kesan itu didapat dari bantuan sinar matahari yang merefleksi ke mata mereka. Berusaha menampilkan kesan yang di tangkap dari objek .berdasarkan kesan cahaya. Ciri-ciri: Karya tidak mendetail hanya kesan tanpa garis penegas, obyek yang dihasilkan agak kabur, sebagian kaum impresionis sangat mementingkan warna yang di timbulkan oleh bias cahaya, hasilnya berupa gambar yang tampak melebur cerah. Seniman pelopor: Claude monet.
5.      Aliran Pointilisme
Pointilisme adalah gaya melukis dengan menggunakan sentuhan titik hingga membentuk sebuah objek gambar dan jika dilihat dari jarak tertentu bias memperlihatkan lukisan yang bersifat realistik, ekspresik, dan artistik. Tokoh: Rijaman, Budi Hariyanto.
6.      Aliran Kubisme
Kubisme adalah aliran yang cenderung melakukan usaha abstraksi terhadap objek ke dalam bentuk-bentuk geometri untuk mendapatkan sensasi tertentu. Corak ini menggambarkan alam menjadi bentuk-bentuk geometris seperti segitiga, segi empat, lingkaran, silinder, bola, kerucut, kubus dan kotak-kotak. Seniman pelopor: Pablo picasso, paul cezane.
7.      Aliran Modern/ Kontemporer
Seni kontemporer adalah seni yang tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman sekarang. Lukisan kontemporer adalah karya yang secara tematik merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui.Mengutamakan kebebasan berekspresi, dinamis dan tidak terikat aturan. Aliran ini menggunakan keindahan motif dan desain menjadi inspirasi. Teknologi masa kini dipadukan dengan seni merupakan ciri khas aliran kontemporer. Tokoh: Sprinka, Angelina P., Jim Supankat,  Nyoman Nuarta.
8.      Aliran Abstrak
Melukis dengan tidak menggambarkan objek alam secara nyata karena banyak ditentukan ide pelukisnya. Seni ini menampilkan unsur-unsur seni rupa yang disusun tidak terbatas pada bentuk-bentuk yang ada di alam. Garis, bentuk, dan warna ditampilkan tanpa mengindahkan bentuk asli di alam. Unsur yang dianggap mampu memberikan sensasi keberadaan objek diperkuat untuk menggantikan unsur bentuk yang dikurangi porsinya. Hasilnya berupa komposisi garis,bidang,warna dan unsur-unsur lainya. Tokoh: Hans Hartum, Zaini, Nashar, Fajar Sidiq, AhmaSadali, Amri Yahya, Jackson pollock, piet mondrian.
9.      Aliran Dadaisme
Ciri khas dari karya dadaisme adalah seni yang tidak mau ilusi atau ketiadaan ilusi. Melukis dengan cara menyajikan karya artistic dari bentuk yang seram, magic, mengerikan, kekanak-kanakan (naive), terkadang mengesankan hal yang main-main. Ciri-ciri: Dominasi warna hitam, merah putih hijau dengan pewarnaan primer, tajam dan kontras. Cenderung menggambarkan kembali kearah primitif, kuno, magic, main-main, naive. Seniman pelopor: paul gauguin, paul klee.
10.  Aliran Surealisme
Melukis hal-hal yang khayal seperti alam mimpi, sehingga banyak menampilkan hal-hal yang aneh dan ajaib yang ada diluar kesadaran. Pelukis berusaha untuk mengabaikan bentuk secara keseluruhan kemudian mengolah setiap bagian tertentu dari objek untuk menghasilkan sensasi tertentu yang bisa dirasakan manusia tanpa harus mengerti bentuk aslinya. Tokoh: Salvador dalli, Ifan Sagita.
11.  Aliran Fauvisme
Ciri khas seni lukisannya ialah warna-warna yang liar. Des fauves dalam bahasa Perancis artinya binatang liar. Aliran ini menekankan pada penggunaan garis kontur yang tegas dan berusaha mengembalikan warna pada peranannya yang mutlak (tidak harus sesuai dengan kenyataan). Tokoh-tokoh aliran ini : Henry Matisse, Andre Dirrain, Maurice de Vlamink, Rauol Dufi, George Rouault dan Kess Van Dongen.
12.  Aliran Futurisme
Melukis dengan berusaha menampilkan kedinamisan dan berusaha mengutarakan gerak serta khayalan masa mendatang. Suatu objek digambarkan beberapa kali secara sama, secara perspektif. Tokoh: Marcel duschamp “nude descending a saircase” Umberto, Boccioni, Carlo Cara, Severini, Gioccomo Ballad an Ruigi Russalo.
13.  Aliran Romantisme
Aliran ini melukiskan cerita-cerita romantis tentang tragedy yang dahsyat, kejadian dramatis yang biasa ditampilkan dalam cerita roman. Lukisan dengan aliran ini berusaha Membangkitkan kenangan romantis dan keindahan di setiap objeknya. Melukiskan objek yang menyangkut perilaku kehidupan.Tentang perjuangan, tragedi, cinta kasih. Ciri-ciri: penggambaran emosi yg memuncak, Penuh dinamika, Penggambaran peristiwa yang dramatis. Tokoh pelopor: Eugene delacroik, Theobore, Gerriwult, Raden Saleh.
14.  Aliran Klasikisme
Yaitu aliran yang berpandangan pada upaya penggalian kembali ide-ide estetik jaman klasik yunani dan romawi. Ciri-ciri seni klasikisme antara lain  dibuat-buat dan berlebihan, indah dan molek, dekoratif,  kemegahan, idealisme, komposisi statis, suasana mencekam,  sedikit menampilkan objek. Seniman pelopor: jacques-louis davis “the oath of horaty”, leonardo davinci “ monalisa”, Kartono Yudo Kusumo, Amri Yahya. 

#selamatbelajar

Implikasi Keragaman Peserta Didik terhadap Pengajaran IPS



A.    Pengertian Anak Didik
Anak didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pendidikan. Sosok anak didik umumnya merupakan ssosok anak yang membutuhkan bantuan orang lain untuk dapat tumbuh dan berkembang ke arah kedewasaan, ia adalah sosok yang selalu mengalami perkembangan sejak lahir sampai meninggal dengan perubahan-perubahan yang terjadi secara wajar (Sutari Imam Barnadib, 1995; dalam buku Ilmu Pendidikan, Dwi siswoyo dkk. 2007). Istilah peserta didik pada pendidikan formal atau sekolah jenjang dasar dan menengah dikenal dengan nama anak didik atau siswa.
Anak didik sangat tergantung dan membutuhkan bantuan dari orang lain yang memiliki kewibawaan dan kedewasaan. Anak didik masih dalam kondisi lemah, kurang berdaya, belum bisa mandiri dan serba kekuramgan dibanding orang dewasa, namun dalam dirinya terdapat potensi bakat-bakat dan disposisi luar biasa yang memungkinkan tumbuh dan berkembang melalui pendidikan.
Beberapa hakikat anak didik dan implikasinya terhadap pendidikan, yaitu:
1.      Anak didik bukan merupakan miniature orang dewasa, akan tetapi memiliki dunia sendiri.
2.      Anak didik adalah manusia yang memiliki diferensiasi periodesasi perkembangan dan pertumbuhan.
3.      Anak didik adalah manusia yang memiliki kebutuhan, baik yang menyangkut kebutuhan jasmani maupun rohani yang harus dipenuhi.
4.      Anak didik adalah makhluk Tuhan yang memiliki perbedaan individual.
5.      Anak didik terdiri dari dua unsur utama, yaitu jasmani dan rohani.
6.      Anak didik adalah manusia yang memiliki potensi (fitrah) yang dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis.

B.     Implikasi Keragaman Pendidikan Anak Terhadap Pengajaran IPS
Untuk dapat menghadapi bahan belajar dengan baik, siswa dituntut menunjukan adanya perhatian. Perhatian seseorang terhadap sesuatu tampak dari gerak-geriknya. Misalnya hal itu tampak dari bagaimana ia melihat benda yang dihadapinya. Dengan perkataan lain perhatian akan tampak dari cara bagaimana ia “menghadirkan” dirinya terhadap sesuatu. Sebagai contoh apabila seorang guru sedang berdiskusi dengan siswa-siswanya tentang sesuatu masalah diharapkan semua peserta diskusi menghadirkan diri masing-masing untuk memecahkan masalah. Apabila terjadi yang demikian maka kita dapat menyatakan bahwa mereka menaruh perhatian dalam diskusi. Akan tetapi apabila beberapa peserta berbicara dengan temannya tentang hal lain kita katakan mereka tidak memperhatikan terhadap apa yang sedang dihadapi. Parhatian tertuju pada sesuata yang tetentu, tidak bersifat menyebar tak terbatas.
Perhatian menjadi titik awal yang mengarah pada belajar. Perhatian menjadi prasyarat dalam belajar. Dengan adanya perhatian si pelajar akan menghadirkan diri dan mereaksi sedemikian rupa terhadap stimulus. Dengan demikian terjadilah peristiwa belajar, walaupun mungkin tidak disadari sepenuhnya. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan peristiwa berkesinambungan selama kita sadar dan mereaksi terhadap setiap stimulus. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa belajar akan terjadi selama seseorang memperhatikan apa yang dihadapinya.
Perhatian bukanlah belajar, namun dengan belajar akan timbul ketertarikan oleh sesuatu yang dihadapi. Dengan demikian perstiwa belajar diharapkan dapat terjadi. Maka ada penulis yang beranggapan bahwa perhatian dapat dijadikan acuan dalam penyusunan kurikulum. Namun perlu diingat bahwa yang dijadikan acuan bukan perhatian siswa pada masa anak. Sebaliknya, yang dapat dijadikan acuan ialah perhatian yang “baru” diarahkan. Apabila perhatian masa anak-anaknya yang dijadikan acuan berarti mengacu pada perhatian yang masih terbentuk, masih sempit dan masih aneh. Oleh karena itu, perhatian yang menjadi acuan adalah yang sudah mendapat warna dari pengaruh pendidikan di sekolah.
Pada umumnya perhatian anak-anak masih belum dapat bertahan lama. Oleh karena itu guru seyogyanya mampu membangkitkan perhatian siswa. Hal ini mungkin dicapai dengan jalan penngalan waktu di SD tidak terlalu panjang. Disamping itu peristiwa belajar diusahakan cukup bervariasi. Yang lebih penting adalah perlu diusahakan supaya sajian dapat menarik siswa. Guru dituntut bukan hanya berupaya mengarahkan perhatian siswa agar tetep terjaga, melainkan juga tetap mengarahkan perhatian siswa kepada hal-hal pokok. Kenyataannya perhatian siswa SD, terutama kelas rendah hanya dapat bertahan singkat, berarti dalam waktu tertentu perhatian mereka terarah pada banyak hal. Perhatain anak juga mudah beralih. Perhatian mereka tidak mudah terarah pada suatu pokok saja. Akibatnya hanpir sama dengan daya tahan perhatian anak. Hal ini selanjutnya berarti bahwa dalam jangka waktu tertentu anak-anak dapat tetarik pada banyak hal. Dalam waktu tertentu perhatian mereka berpindah-pindah.
Selanjutnya ada sifat anak yang perlu mendapat perhatian kita. Pada umumnya anak-anak tertarik cara kerja benda-benda. Hal ini tidak mengherankan karena umumnya anak tetarik oleh sesuatu yang bergerak. Akibatnya selanjutnya ialah anak ingin mengetahui sebab terjadinya sesuatu. Yang juga berarti mereka ingin tahu bagaimana timbulnya sesuatu, yang membawa anak tertarik kepada sejarah timbulnya sesuatu. Oleh kerena itu dalam batas tertentu mereka tertarik oleh sesuatu yang berjauhan juga. Jauh dalam arti jarak maupun dalm arti waktu, ialah sesuatu yang jauh dan tentang zaman lampau.
Dari gambaran di atas dapat dikatakan bahwa anak hidup dalam dunia yang beragam dan imaginatif. Agaknya sifat IPS yang terpadu dengan pendekatan multi atau interdisipliner dapat mewadahi keragaman perhatian anak. Bahan belajar dalam IPS cukup beragam. Yang mungkin sulit ditangani ialah supaya bahan yang beragam itu dapat lebih “hidup”. Artinya supaya para siswa ditangani untuk mencurahkan perhatian mereka terhadap berbagai segi kehidupan masyarakat secara luas.

C.     Implikasi Perkembangan Anak Terhadap IPS
Walaupun teori perkembangan Piaget dikembangkan berdasarkan hasil pengamatannya pada anak-anak di Barat, tetapi sebagai acuan dapat juga dipertimbangkan. Menurut Piaget, tingkat perkembangan kognitif anak melalui empat tahap. Anak usia sekitar 7 tahunan sampai 11 tahunan tergolong ke dalam masa operasi konkret. Jadi tingkat inilah yang terpenting ditelaah. Di bawah ini dicantumkan keempat tingkat perkembangan anak dan cirri-ciri umumnya.
1.      Sensorimotor ( sampai umur 2 tahun ).
Anak-anak mempelajari seperti apa benda-benda melalui alat inderanya (rabaan, perasaan, pengecap, penciuman dan pendengaran. ).
2.      Preoperasional ( 2 – 7 tahun ).
Pada tingkat ini anak secara berangsur dapat memikirkan lebih dari satu benda dalam waktu yang bersamaan. Mereka mulai menguasai lambang-lambang yang memungkinkan manipulasi secara mental. Akan tetapi penalaran masih sangat dipengaruhi oleh persepsi. Pemakaian bahasa masih egosentrik, kata-kata mempunyai makna yang khas. Karena itu kemampuan mereka untuk memandang pendapat orang lain terbatasi.
3.      Operasional konkret (7 – 11 tahun ).
Anak-anak telah mampu memikirkan lebih dari satu benda pada saat bersamaan dan dapat memahami bahwa benda yang berbeda bentuknya mempunyai volume sama. Juga anak mampu mengembalikan bentuk bulat menjadi bentuk asal, misalnya bulat panjang.akan tetapi pemikirannya masih terbatas mengenai benda yang konkret, dan akan kesulitan apabila menggenerasikan lebih dari satu.
4.      Operasional formal (11 tahun ke atas ).
Anak-anak telah mampu memandang benda yang hipotetis, benda yang sebenarnya tidak ada tetapi merupakan abstraksi mental. Anak-anak bertambah kemampuannya untuk berfikir secara proporsional dan membentuk hipotesis.
Anak usia Sekolah Dasar berkisar antara 6 sampai 12 tahun. Dengan demikian sebagian besar anak-anak tersebut tergolong ke dalam tingkat operasi konkret. Di kelas 1 masih pada tahap preoperasional. Sedangkan anak kelas 5 sudah mulai mencapai tingkatan operasi formal. Oleh karena IPS diikuti sejak kelas 3 sampai kelas 6 maka dapat disimpulkan bahwa pada umumnya anak-anak yang mengikuti pembelajaran IPS telah mencapai operasi formal.
Yang perlu dicatat ialah setiap anak pasti melalui tahap-tahap perkembangan kognitif. Jadi dalam merancang embelajaran IPS, guru perlu memperhatikan hal tersebut. Apa yang telah diuraikan di atas seyogyanya menjadi dasar pertimbangan dalam:
·         Pemilihan isi bahan belajar mulai dari fakta, konsep, generalisasai dan teori sampai pada kedalaman dan keluasan yang cocok untuk anak.
·         Tata urutan bahan belajar yang ditata berdasarkan perkebangan kemapuan anak.
·         Strategi pembelajaran.

Perkembangan Seni Rupa Anak Sekolah Dasar



PERKEMBANGAN SENI RUPA ANAK-ANAK
I.     Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar
Tahap-tahap  perkembangan  menggambar/seni  rupa  secara  garis besar dapat dibedakan  dua tahap karakteristik, yaitu kelas I sampai dengan kelas III ditandai  dengan  kuatnya daya  fantasi-imajinasi,  sedangkan  kelas  IV sampai dengan kelas VI ditandai dengan mulai berfungsinya kekuatan rasio.
Ada dua cara untuk memahami perkembangan seni  rupa anak-anak. Pertama, mengkaji  teori-teori  yang  berkaitan  dengan  perkembangan  seni rupa  anak  menurut para ahli. Kedua, mengamati dan mengkaji karya anak secara langsung. Hal ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan karya anak  berdasarkan rentang usia yang relevan dengan  teori yang  telah  kita  pelajari. 
II.  Periodisasi Perkembangan Seni Rupa anak-anak
Periodisasi  masa  perkembangan  seni rupa anak menurut  Viktor  Lowenfeld dan Lambert Brittain dalam:  Creative  and  Mental  Growth adalah
(1) Masa mencoreng (scribbling)                                      : 2-4 tahun
(2) Masa Prabagan (preschematic)                                    : 4-7 tahun 
(3) Masa Bagan (schematic period)                                  : 7-9 tahun 
(4) Masa Realisme Awal  (Dawning Realism)                  : 9-12 tahun 
(5) Masa Naturalisme Semu (Pseudo Naturalistic) : 12-14 tahun 
(6) Masa Penentuan (Period of Decision)                         : 14-17 tahun.
Penjelasan periodisasi perkembangan seni rupa anak diatas adalah sebagai berikut:
1.      Masa Mencoreng (scribbling)   : 2-4 tahun
Periode ini  terbagi ke dalam  tiga tahap, yaitu: 1) corengan tak beraturan, 2) corengan terkendali, dan 3) corengan bernama.
Ciri  gambar yang dihasilkan anak pada tahap  corengan tak beraturan  adalah bentuk  gembar  yang  sembarang,  mencoreng  tanpa  melihat  ke  kertas,  belum  dapat membuat corengan berupa lingkaran dan memiliki semangat yang tinggi.
Corengan  terkendali  ditandai  dengan  kemampuan  anak  menemukan  kendali  visualnya  terhadap  coretan  yang  dibuatnya.  Hal  ini  tercipta  dengan  telah  adanya kerjasama  antara  koordiani  antara  perkembangan  visual  dengan  perkembamngan motorik.  Hal  ini  terbukti  dengan  adanya  pengulangan  coretan  garis  baik  yang  horizontal , vertical, lengkung , bahkan lingkaran.
Corengan  bernama  merupakan  tahap  akhir  masa  coreng  moreng.  Biasanya terjadi  menjelang  usia  3-4  tahun,  sejalan  dengan  perkembangan  bahasanya  anak  mulai  mengontrol  goresannya  bahkan  telah  memberinya  nama,  misalnya:  “rumah”, “mobil”,  “kuda”. 
2.     Masa Prabagan (preschematic)  : 4-7 tahun
Objek  yang  digambarkan  anak biasanya  berupa  gambar  kepala-berkaki.  Sebuah  lingkaran  yang  menggambarkan kepala kemudian pada bagian bawahnya ada dua garis sebagai pengganti kedua kaki.  Ciri-ciri  yang  menarik  lainnya  pada  tahap  ini  yaitu  telah  menggunakan bentuk-bentuk  dasar  geometris  untuk  memberi  kesan  objek  dari  dunia  sekitarnya. Koordinasi  tangan  lebih  berkembang.  Aspek  warna  belum  ada  hubungan  tertentu dengan  objek,  orang  bisa  saja  berwarna  biru,  merah,  coklat  atau  warna  lain  yang disenanginya. Penempatan  dan  ukuran  objek  bersifat  subjektif,  didasarkan  kepada kepentingannya. Ini  dinamakan  dengan  “perspektif batin”.
3.     Masa Bagan (schematic period)   : 7-9 tahun
Konsep bentuk mulai tampak lebih jelas. Anak cenderung mengulang bentuk. Gambar      masih  tetap  berkesan  datar  dan  berputar  atau  rebah  (tampak  pada penggambaran pohon di kiri kanan jalan yang dibuat tegak lurus dengan badan jalan, bagian  kiri  rebah  ke  kiri,  bagian  kanan  rebah  ke  kanan).  Pada  perkembangan selanjutnya kesadaran ruang muncul dengan dibuatnya garis pijak (base line). Penafsiran  ruang  bersifat  subjektif,  tampak  pada  gambar  “tembus  pandang” (contoh:  digambarkan  orang  makan  di  ruangan,  seakan-akan  dinding  terbuat  dari kaca).  Gejala  ini  disebut  dengan  idioplastis  (gambar  terawang,  tembus  pandang). Misalnya  gambar  sebuah  rumah yang  seolah-olah  terbuat  dari  kaca  bening,  hingga seluruh isi di dalam rumah kelihatan dengan jelas.
4.     Masa Realisme Awal  (Dawning Realism)  : 9-12 tahun
karya  anak  lebih  menyerupai  kenyataan. Kesadaran perspektif mulai muncul, namun berdasarkan penglihatan sendiri. Mereka menyatukan  objek  dalam  lingkungan.  Perhatian  kepada  objek  sudah  mulai rinci.  Dalam  menggambarkan  objek,  proporsi  (perbandingan ukuran) belum dikuasai sepenuhnya.  Pemahaman  warna  sudah  mulai disadari. Penguasan konsep  ruang mulai  dikenalnya sehingga  letak  objek  tidak lagi  bertumpu  pada  garis  dasar,  melainkan  pada  bidang  dasar  sehingga  mulai ditemukan  garis  horizon.  Selain  dikenalnya  warna  dan  ruang,  penguasaan  unsur  desain seperti keseimbangan dan irama mulai dikenal pada periode ini. Ada  perbedaan  kesenangan  umum,  misalnya:  anak  laki-laki  lebih  senang kepada menggambarkan kendaraan, anak perempuan kepada boneka atau bunga.
5.     Masa Naturalisme Semu (Pseudo Naturalistic) : 12-14 tahun
Pada  masa  naturalisme  semu,  kemampuan  berfikir  abstrak  serta  kesadaran sosialnya  makin  berkembang.  Perhatian  kepada  seni  mulai  kritis,  bahkan  terhadap karyanya  sendiri.  Pengamatan  kepada  objek  lebih  rinci.
6.     Masa Penentuan (Period of Decision) : 14-17 tahun.
Pada  periode  ini  tumbuh  kesadaran  akan  kemampuan  diri.  Perbedaan  tipe individual  makin  tampak.  Anak  yang  berbakat  cenderung  akan  melanjutkan kegiatannya  dengan  rasa  senang,  tetapi  yang  merasa  tidak  berbakat  akan meninggalkan  kegiatan  seni  rupa,  apalagi  tanpa  bimbingan.  Dalam  hal  ini  peranan guru banyak  menentukan,  terutama dalam meyakinkan  bahwa  keterlibatan  manusia dengan  seni  akan  berlangsung  terus  dalam  kehidupan. 
1.      Menurut penelitian Cyril Burt hasil gambar karya anak-anak usia :
Usia
Perkembangan Menggambar
Usia 2 th
goresan tak terarah dalam menggores dengan goresan lurus, membusur dengan arah sembarang seperti horisontal, vertikal atau diagonal.
Usia 3 th
goresan terarah dalam menggores yang berupa goresan melingkar atau spiral.
Usia 4 th
goresan intuitif yakni goresan dengan bentuk tertentu yang diperoleh secara kebetulan.
Usia 5 th
Goresan lokalisasi ialah goresan melingkar, vertikal, horisontal dan diagonal dibuat mengelompok pada salah satu bidang gambar, seperti bidang samping kiri, kanan, atas atau bawah
Usia 6th
masa simbolisme deskriptif, seorang anak menamai gambarnya, meskipun tidak mirip dengan bentuk aslinya.
Usia 7-8 th
merupakan masa realisme deskriptif. Pada usia ini anak merasakan adanya kenyataan nyata dari apa yang dilihat, tetapi belum mampu mengungkapkan dengan cara yang benar. Kenyataan itu ialah segala benda dan machluk hidup keberadaannya dalam ruang dan kedalaman.
Usia 9-10 th
masa visual realisme, dimana anak mampu menggambar bentuk dan warna obyek cenderung mirip aslinya., meskipun bila diamati dengan cermat masih banyak ditemukan bagian-bagian gambar yang tidak mirip dengan obyek aslinya.
Usia 11 – 14 th
merupakan masa perwujudan dengan ciri-ciri umum dengan gambar yang dibuat jauh lebih mirip dengan obyek aslinya., meskipun dengan proporsi yang tidak tepat dengan obyek aslinya.
Usia 15 -17 th
adalah masa revival, yakni masa anak mencoba menggambar untuk menghidupkan kembali obyek yang pernah dilihatnya. Ciri umum ialah pengungkapan dimensi ruang dan kedalaman menjadi usaha serius, misalnya dengan memperhatikan terang gelapnya obyek jika ditimpa cahaya dari arah sudut tertentu. Cara lain dengan menggambar benda dengan metode perspektif paralel seperti metode isometri, dimetri atau kavalier. Beberapa anak bahkan mampu menggambar obyek dengan metode menggambar perspektif dengan satu titik lenyap, dua titik lenyap pada garis cakrawala.

2. Italo L, de Francesco
Usia/ Tahapan
Perkembangan Menggambar
Tahap manipulatif ( usia 2th – 6 th)
Merupakan tahap menggunakan alat-gambar agar menjadi mahir. Hasil gambar berupa corengan dan simbol deskriptif berdasarkan perkembangan menggambar dari Cyrill Burt.
Masa pra simbolik dan simbolik (usia 7 th – 10 th)
Hasil gambar pada usia ini mirip dengan gambar anak masa realisme deskriptif (7 th- 8 th ), dan visual realisme ( 9 th- 10 th) dari Cyril Burt.
Masa awal realisme (usia 11 th – 13 th)

Hasil gambar mirip pola perwujudan menurut pendapat Cyril Burt
Masa realisme proyektif (usia 14 th- 15 th)
Hasil gambar merupakan campuran masa perwujudan dan revival dari Cyril Burt.
Masa realisme analistis ( usia 16 th- 17 th).
Hasil gambar mirip tahap menggambar masa revival dari Cyril Burt.

III. TIPE GAMBAR ANAK-ANAK
Keberhasilan karya gambar buatan anak ditentukan oleh orisinalitas gambar yang sesuai dengan dunia anak-anak menurut perkembangan usianya.
Berdasarkan bentuk, dikenal beberapa tipe gambar, yakni tipe visual, tipe haptik, dan tipe campuran. Gambar anak tipe visual, hasil menggambar mirip dengan obyek aslinya. Gambar anak tipe haptik, obyek yang digambar hanya yang menarik minat atau perasaannya, hasilnya berupa gambar yang tidak mirip dengan obyek aslinya. Kebanyakan gambar anak-anak berupa campuran yakni dengan ciri-ciri visual dan haptik.

#selamatbelajar